Tampilkan postingan dengan label ada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ada. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 Desember 2013
Ada sebab mengapa mahkamah terima rayuan Sirul
Malaysiakini 26 Ogos 2013
Penghakiman bertulis dalam kes rayuan oleh dua anggota polis elit dalam kes pembunuhan wanita Mongolia Altantuya Shaariibuu menunjukkan bahawa tertuduh kedua, Kpl Sirul Azhar Umar mungkin telah dianiaya.
Mahkamah Rayuan pada hari Jumaat lalu menggariskan bahawa Sirul dan tertuduh pertama Cif Insp Azilah Hadri dibebaskan dari tuduhan berkenaan memandangkan pembantu peribadi Datuk Seri Najib Razak, Musa Safri tidak ditampilkan sebagai saksi.
Sirul dalam kenyatannya dari kandang tertuduh telah menyebut bagaimana beliau dijadikan “kambing hitam” oleh polis untuk dikorbankan demi memelihara rancangan pasukan tersebut.
Sirul dalam kenyatannya dari kandang tertuduh telah menyebut bagaimana beliau dijadikan “kambing hitam” oleh polis untuk dikorbankan demi memelihara rancangan pasukan tersebut.
Hakim Mahkamah Rayuan Tengku Maimun Tuan Mat dalam penghakiman bertulis tersebut menjelaskan sebab mahkamah tidak menerima bukti daripada pegawai polis yang membawa Sirul ke rumah tertuduh berkenaan untuk mengecam bahan bukti.
Terdapat pengakuan bertentangan dan tidak konklusif mengenai penemuan satu jaket hitam dan barang kemas milik Altantuya dalam jaket tersebut, penghakiman itu dipetik.
Tengku Maimun juga menyatakan, tiada keterangan yang konklusif mengenai kata-kata yang disebut oleh Sirul berhubung penemuan jaket tersebut.
Katanya lagi, seorang saksi polis menyebut bahawa Sirul memberitahu barang kemas itu disimpan dalam jaket tersebut tetapi seorang lagi pegawai polis tidak mendedahkan kenyataan seperti itu.
Hakim itu berkata, Sirul dalam keterangan menyebut bahawa pegawai polis yang mendakwa barang kemas itu disimpan dalam jaket berkenaan telah meminta tertuduh memegang jaket tersebut untuk rakaman gambar, sebanyak dua kali.
"Pegawai polis yang sama mengeluarkan beberapa barangan daripada jaket yang sama dan meletakkan ke atas katil sebelum memaksa (Sirul) menunjukkan, dengan jari, ke arah kesemua barangan tersebut sebelum gambarnya dirakam.
"Perayu kedua dengan itu menyatakan bahawa polis meletakkan barang kemas itu di rumahnya,” katanya.
Mahkamah turut mengambil kira fakta bahawa kunci rumah tersebut dipegang oleh anggota polis sebelum pencarian untuk jaket berwarna hitam dibuat dari dalam almari yang tidak berkunci di bilik Sirul yang tidak berkunci, kata hakim tersebut.
Terdapat pengakuan bertentangan dan tidak konklusif mengenai penemuan satu jaket hitam dan barang kemas milik Altantuya dalam jaket tersebut, penghakiman itu dipetik.
Katanya lagi, seorang saksi polis menyebut bahawa Sirul memberitahu barang kemas itu disimpan dalam jaket tersebut tetapi seorang lagi pegawai polis tidak mendedahkan kenyataan seperti itu.
Hakim itu berkata, Sirul dalam keterangan menyebut bahawa pegawai polis yang mendakwa barang kemas itu disimpan dalam jaket berkenaan telah meminta tertuduh memegang jaket tersebut untuk rakaman gambar, sebanyak dua kali.
"Pegawai polis yang sama mengeluarkan beberapa barangan daripada jaket yang sama dan meletakkan ke atas katil sebelum memaksa (Sirul) menunjukkan, dengan jari, ke arah kesemua barangan tersebut sebelum gambarnya dirakam.
"Perayu kedua dengan itu menyatakan bahawa polis meletakkan barang kemas itu di rumahnya,” katanya.
Mahkamah turut mengambil kira fakta bahawa kunci rumah tersebut dipegang oleh anggota polis sebelum pencarian untuk jaket berwarna hitam dibuat dari dalam almari yang tidak berkunci di bilik Sirul yang tidak berkunci, kata hakim tersebut.
Minggu, 08 Desember 2013
Mengapa Ada Kartu Merah Kuning di Sepak Bola
Setiap pemain sepak bola yang melakukan pelanggaran bisa mendapat hukuman kartu kuning, bahkan kartu merah. Pernahkah terpikir kapan dan bagaimana asal-muasalnya?
Sepak bola telah ada dan dipertandingkan sejak abad 19, namun penggunaan kartu kuning dan merah baru terlaksana di pertengahan abad 20. Kisah ini berawal pada Piala Dunia 1966. Pada perempat final antara tuan rumah Inggris dan Argentina kebetulan wasit yang memimpin pertandingan berasal dari Jerman, yakni Rudolf Kreitlein.
Sepak bola telah ada dan dipertandingkan sejak abad 19, namun penggunaan kartu kuning dan merah baru terlaksana di pertengahan abad 20. Kisah ini berawal pada Piala Dunia 1966. Pada perempat final antara tuan rumah Inggris dan Argentina kebetulan wasit yang memimpin pertandingan berasal dari Jerman, yakni Rudolf Kreitlein.

Karena melakukan pelanggaran keras, kapten Argentina, Antonio Rattin, harus dikeluarkan oleh Kreitlein. Masalah perbedaan bahasa membuat hal ini sulit. Wasit asal Jerman ini hanya tahu bahasa Jerman dan Inggris, sementara Rattin tak paham apa maksud wasit asal Jerman itu. Dia pun tak segera meninggalkan lapangan.
Wasit Inggris yang ikut bertugas di pertandingan itu, Ken Aston, kemudian masuk ke lapangan. Dengan sedikit modal bahasa Spanyol, dia merayu Rattin untuk meninggalkan lapangan.
Setelah kasus ini, Ken Aston kemudian berpikir. Harus ada komunikasi universal yang bisa langsung diketahui semua orang, ketika wasit memberi peringatan kepada pemain atau mengeluarkannya dari lapangan. Dengan demikian, wasit tak perlu harus membuat penjelasan dengan bahasa yang mungkin tak diketahui pemain.
Suatu hari, dia berhenti di perempatan jalan. Melihat lampu lalu lintas, tiba-tiba saja ide muncul di otaknya. Jawabannya adalah: kartu berwarna, merah dan kuning. Bila melakukan pelanggaran dan harus diberi peringatan keras, maka kartu kuning harus diberikan. Sementara kartu merah untuk sanksi berat, dan pemain yang melakukan pelanggaran berat itu harus keluar dari lapangan.
Wasit Inggris yang ikut bertugas di pertandingan itu, Ken Aston, kemudian masuk ke lapangan. Dengan sedikit modal bahasa Spanyol, dia merayu Rattin untuk meninggalkan lapangan.
Setelah kasus ini, Ken Aston kemudian berpikir. Harus ada komunikasi universal yang bisa langsung diketahui semua orang, ketika wasit memberi peringatan kepada pemain atau mengeluarkannya dari lapangan. Dengan demikian, wasit tak perlu harus membuat penjelasan dengan bahasa yang mungkin tak diketahui pemain.
Suatu hari, dia berhenti di perempatan jalan. Melihat lampu lalu lintas, tiba-tiba saja ide muncul di otaknya. Jawabannya adalah: kartu berwarna, merah dan kuning. Bila melakukan pelanggaran dan harus diberi peringatan keras, maka kartu kuning harus diberikan. Sementara kartu merah untuk sanksi berat, dan pemain yang melakukan pelanggaran berat itu harus keluar dari lapangan.

Ia pun segera mengirim usulan pada organisasi sepak bola dunia, FIFA. Dan, idenya langsung disetujui. Maka di Piala Dunia 1970, kartu kuning dan merah kali pertama digunakan. Ironisnya, sepanjang Piala Dunia 1970 tak satu pun pemain yang terkena kartu merah. Hanya kartu kuning yang sempat dilayangkan sehingga kartu merah tak bisa �pamer diri� pada Piala Dunia 1970.
Ada lagi satu hal unik lainnya. Meskipun ide tersebut datang dari wasit Inggris, negeri itu tak serta merta menerapkannya di kompetisi mereka. Kartu merah dan kuning baru digunakan di kompetisi sepak bola Inggris pada 1976. Pasalnya, wasit kemudian terlalu mudah mengeluarkan kartu dan diprotes banyak pemain. Oleh sebab itu, penggunaannya sempat dihentikan pada 1981 dan 1987.
sumber
Langganan:
Postingan (Atom)